Makna Lirik Lagu "Sajadah Panjang" Bimbo

"Ada sajadah panjang terbentang, Hamba tunduk dan sujud, Di atas sajadah yang panjang ini..". Masih ingat dengan syair lagu diatas? Ya, itulah petikan lirik lagu "Sajadah Panjang" yang dipopulerkan Bimbo di era 60an. Apa makna dari lagu tersebut?

Potret Band Comeback Dengan Formasi Baru

Potret, grup musik yang sempat populer di akhir era 90an kini hadir kembali. Setelah beberapa tahun vakum, kini grup band yang digawangi Melly Goeslaw, Anto Hoed dan Aksan Sjuman, muncul dengan tambahan 2 personil anyar. Siapa sajakah mereka?.

Agnes Monica Daur Ulang Single "Rindu"

Mendaur-ulang lagu lama dan dijadikan sebuah single dilakukan oleh seorang Agnes Monica lewat single "Rindu" di tahun 2011. Lagu tersebut diciptakan oleh musisi kondang Erros Djarot dan pernah dibawakan oleh Fryda Lucyana tahun 1994 silam. Sanggupkah Agnes lepas dari bayang-bayang penyanyi aslinya?

Kisah Cinta Ebit G. Dalam Quadrologi Camellia

Quadrologi Lagu Camellia milik musisi Ebiet G. Ade masih menyisakan misteri. Lagu yang berjudul 'Camellia I' hingga 'Camellia IV (Requiem)' saling berhubungan satu sama lain. Apa yang sebenarnya hendak diceritakan Ebiet dalam rangakain lagu-lagu tersebut?

Tommy J. Pisa, Penyanyi Pop Mellow Era 80an

Tommy J. Pisa ialah penyanyi pop yang berasal dari Palembang, yang populer di era 80an hingga dekade awal 90an. Penyanyi ini dikenang karena lagu-lagunya yang sentimentil dan melankolis. Ini dia profil dan biodata Tommy J. Pisa.

Senin, 23 Januari 2017

Iwan Fals – Celoteh Camar Tolol Dan Cemar

Api menjalar dari sebuah kapal
Jerit ketakutan keras melebihi gemuruh gelombang yang datang...

Sejuta lumba-lumba mengawasi cemas
Risau kamar membawa kabar, Tampomas terbakar
Risau camar memberi saran, Tampomas II tenggelam...

[Intro]

Asap kematian dan bau daging terbakar
Terus menggelepar dalam ingatan
Hatiku rasa bukan takdir Tuhan
Kar’na aku yakin itu tak mungkin...

Korbankan ratusan jiwa mereka yang belum tentu berdosa
Korbankan ratusan jiwa demi peringatan manusia...
[2X]

(Bukan bukan itu, aku rasa kitapun tahu
Petaka terjadi kar’na salah kita sendiri...)

Datangnya pertolongan yang sangat diharapkan
Bagai rindukan bulan, lambat engkau pahlawan
Celoteh sang camar...

Bermacam alasan tak mau kami dengar
Di pelupuk mata hanya terlihat jilat api dan jerit penumpang kapal...

Tampomas, sebuah kapal bekas
Tampomas, terbakar di laut lepas
Tampomas, itu penumpang terjun bebas
Tampomas, beli lewat jalur culas
Tampomas, hati siapa yang tak panas
Tampomas...

(Tampomas) kasus ini wajib tuntas
(Tampomas) koran-koran seperti amblas
(Tampomas) pahlawanmu kurang pantas
(Tampomas...)

Iwan Fals – Asmara Tak Secengeng Yang Aku Kira

Bekas tapak-tapak sepatu yang kupakai
Selalu ikuti kemana ku berjalan
Debu dan keringat yang ada di atas kulit tubuh ini
Saksi bisu bahwasanya tak mudan dan tak segampang
Yang selama ini aku sangka tentang asmara...

(*)
Cermin di s’gala tempat sahabat terdekat tak pernah terlambat
Menampung setiap ungkapan, mendekap semua keluhan
Meraih suka, menangkap tawa, merebut duka...

(#)
Satu cerita dua manusia terlibat dalam amuk asmara
Satu cerita yang memang ada, tak mungkin mati jelas abadi
Selama manusia hidup dalam alam ini...

Reff:
Maafkan kalau ku salah duga ternyata asmara itu
Tak mudah, tak gampang dan tak secengeng yang ku kira
Yang ku sangka...

[Interlude]
Back to: (*), (#), Reff (4X)
[Fade Out...]

Iwan Fals – Siang Pelataran SD Sebuah Kampung

Sentuhan angin waktu siang
Kibarkan satu kain bendera usang
Di halaman Sekolah Dasar,
Ditengah khidmat anak desa nyanyikan lagu bangsa
Bergemalah...

Tegap engkau berdiri walau tanpa alas kaki
Lantang suara anak-anak di sana
Kadar cinta mereka takn terhitung besarnya
Walau tak terucap namun bisa ku rasa
Bergemalah...

(Yah oh oh ow..) harapan tertanam
(Yah oh oh ow..) tonggak bangsa ternyata tak tenggelam

Dengarlah nyanyi mereka kawan
Melengking nyaring menembus awan
Lihatlah cinta bangsa di dadanya
Perduli usang kain bendera...

Iwan Fals – Berikan Pijar Matahari

Terhimpit gelak tertawa di sela meriah pesta
S’ribu gembel kut menari, s’ribu gembel terus bernyanyi
Keras melebihi lagu tuk berdansa
Keras melebihi gelegar halilintar yang ganas menyambar...

Ku yakin pasti terlihat dansa mereka begitu dekat
Ku yakin pasti mendengar nyanyi mereka yang hinga-bingar
Seolah kita tidak mau mengerti, seolah kita tidak pernah peduli
Pura buta dan pura tuli...

Mari kita hentikan (hentikan)
Dansa mereka dengan memberi pijar matahari
Dengan memberi pijar matahari...

[Interlude]

Terkurung gedung-gedung tinggi, wajah murung yang hampir mati
Biarkan mereka iri, wajar bila mencaci maki
Nafas terasa sesak bagai terkena asma
Nampak merangkak degup jantung keras berdetak
Tiap detik sepertinya hitam (hitam.. hitam...)

Tak sanggup aku melihat lukamu kawan dicumbu lalat
Tak kuat aku mendengar jeritmu kawan melebihi dentum meriam
[5X]...Fade Out...

Iwan Fals – Jendela Kelas Satu

Duduk di pojok bangku deretan belakang
Di dalam kelas penuh dengan obrolan
S’lalu mengacau laju khayalan...

Dari jendela kelas yang tak ada kacanya
Dari sana pula aku mulai mengenal
Seraut wajah berisi lamunan...

Liiir.. Liri liri..
Lirili rili.. li liri liri...

Bibir merekah dan merah selalu basah
Langkahmu tenang kala engkau berjalan
Tinggi semampai gadis idaman...

Reff:
Kau datang membawa sebuah cerita
Darimu itu pasti lagu ini tercipta,
Darimu itu pasti lagu ini tercipta...

[Interlude]

Dari jendela kelas yang tak ada kacanya
Tembus pandang ke kantin bertalu rindu
Datang mengetuk pintu hatiku...

Back to: Reff

Iwan Fals – Semoga Kau Tak Tuli Tuhan

Begitu halus tutur katamu
Seolah lagu termerdu
Begitu indah bunga-bungamu
Di atas karya sulam itu
Tampilkan kebajikan seorang ibu...

Dengarlah detak jantung benihku
Yang kutanam di rahimmu
Seakan pasrah menerima
Semua warna yang kita punya
S’gala rasa yang kita bina...

Reff:
Ku harap kesungguhanmu
Kaitkan jiwa bagai sulam di karya itu
Ku harap keikhlasanmu
Sirami benih yang ku tabur di tamanmu
Oh jelas rakit pagar s’makin kuat,
Tak goyah walau diusik unggas...

[Interlude]

Pintaku pada Tuhan mulia
Jauhkan sifat yang manja
Bentuklah s’gala warna jiwanya
Diantara lingkup manusia
Di arena yang bau busuknya luka...

Bukakan mata pandang dunia
Beri watak baja padanya
Kalungkan tabah kala derita
Semoga kau tak tuli Tuhan,
Dengarlah pinta kami s’bagai orang tuanya...

Back to: Reff

Iwan Fals – Kereta Tiba Pukul Berapa

Hilang sabar di hati dan tak terbendung lagi, waktu itu
Lama memang kutunggu kedatanganmu sobat karibku
Datang telegram darimu dua hari yang lalu (tunggu aku)
Di stasiun kereta itu pukul satu...

(*)
Kupacu sepeda motorku jarum jam tak mau menunggu, maklum rindu
Traffic light aku lewati, lampu merah tak peduli, jalan terus (asyik)
Di depan (muka) ada Polantas wajahnya begitu buas, tangkap aku
Tawar-menawar harga pas tancap gas...

Sampai stasiun kereta pukul setengah dua
Duduk aku menunggu, tanya loket dan penjaga
Kereta tiba pukul berapa?
Biasanya kereta terlambat, dua jam mungkin biasa...

[Interlude]

Tiba kabar darimu dua hari yang lalu, tunggu aku
Di stasiun kereta itu pukul satu...

Back to: (*)

Sampai stasiun kereta pukul setengah dua
Duduk aku menunggu, tanya loket dan penjaga
Kereta tiba pukul berapa?
Biasanya kereta terlambat, dua jam cerita lama...

Sampai stasiun kereta pukul setengah dua
Duduk aku menunggu, tanya loket dan penjaga
Kereta tiba pukul berapa?